RSS

WAJAH PEMBANGUNAN KESEHATAN

16 Mei
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan disusun dengan mempertimbangkan UU No 32 tahun 2003 tentang pemerintahan Daerah dan mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Pacitan tahun 2006-2011.
Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Pacitan telah menampakkan hasil, namun demikian perlu lebih diarahkan untuk menjamin konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan sehingga perencanaan pembangunan kesehatan disusun secara terpadu (integrated), terukur (measurable), dan dapat dilaksanakan (applicable), dan berkelanjutan (sustainable). Oleh karena itulah disusunlah Rencana Strategis (Renstra) agar pembangunan kesehatan di Kabupaten Pacitan dapat berjalan terarah dan sesuai dengan tujuan.
Disamping itu Rencana Strategis ini disusun dengan mengacu pada Keputusan Menkes No. 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan yang digunakan sebagai acuan bagi Pemerintah daerah dalam melaksanakan kewenangan bidang kesehatan di Kabupaten Pacitan.
Rencana Strategis ini selain mengungkapkan visi dan misi Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan juga memberikan gambaran secara lengkap program dan kegiatan selama tahun 2006-2011.

Wajah Kesehatan Di Tahun 2007
Tuesday, 29 April 2008

Wapres Jusuf Kalla bersama Staff Dinkes

Sepanjang tahun 2007 berbagai masalah kesehatan terjadi di ibu pertiwi Indonesia tercinta. Masalah-masalah kesehatan tersebut antara lain peningkatan berbagai penyakit infeksi, peningkatan penyakit degeneratif dan penyakit yang muncul akibat dampak dari bencana alam baik karena banjir besar, air pasang dan gempa bumi. Selain itu masalah penyakit busung lapar akibat kelaparan dan kurang gizi serta kejadian luar biasa (KLB) diare juga masih dilaporkan dari beberapa daerah di Indonesia.

.

Infeksi Tuberkulosis khususnya TBC paru juga masih menjadi masalah utama. Indonesiamasih termasuk dari beberapa negara dunia dengan jumlah kasus terbanyak TBC.

Demam berdarah Dengue (DHF) masih menjadi endemis dan kasusnya selalu ditemukan sepanjang tahun terutama dikota-kota besar.

Penyakit malaria yang sebenarnya insidens sudah sangat berkurang, dalam beberapa tahun belakangan ini dilaporkan kasusnya meningkat kembali. Peningkatan kembali kasus malaria pada beberapa daerah di Indonesia dihubungkan dengan kondisi lingkungan yang buruk disertai pemanasan global yang saat ini sedang terjadi.
Pemanasan global yang berakibat temperatur bumi yang meningkat menyebabkan kondisi yang baik buat nyamuk pembawa penyakit malaria untuk hidup.

Kelaparan yang melanda beberapa daerah juga salah satu factor ditemukannya kasus-kasus kurang gizi sampai busung lapar yang terjadi tidak saja di daerah-daerah pulau luar Jawa tetapi juga daerah-daerah di pulau Jawa bahkan ironis anak-anak Balita dengan gizi kurang akibat asupan yang kurang masih ditemukan di Ibukota Jakarta tercinta ini.
Bencana alam baik dampak langsung karena adanya global warming (pemanasan global) maupun karena kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana mengakibatkan terjadinya kerusakan dan kehilangan harta benda dari masyarakat kita.

Selain penyakit infeksi ternyata penyakit degeneratif juga semakin banyak ditemukan di negara kita. Penyakit Diabetes Melitus, obesitas, dislipidemia, stroke, penyakit jantung koroner insidens juga semakin meningkat. Peningkatan penyakit degeneratif ini berhubungan dengan gaya hidup masyarakat perkotaan yang cenderung mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan kurang melakukan aktifitas olah raga. Selain itu juga keengganan untuk mengkonsumsi buah dan sayur-sayuran sesuai yang dianjurkan yaitu 5 porsi setiap hari.

Indonesia saat ini menghadapi masalah kesehatan modern dan masalah kesehatan tradisional. Masalah kesehatan modern seperti obesitas, diabetes mellitus, penyakit jantung koroner,dislipidemia (kadar kolesterol darah yang tinggi).

Masalah kesehatan tradisional seperti TBC, kelaparan, diare. Belum lagi penyakit infeksi baru seperti flu burung jumlah kasus dan jumlah kematiannya juga cukup besar di Indonesia. Sehingga secara khusus Indonesia menjadi sorotan badan dunia akibat penyakit flu burung ini.

Selain kedua kelompok penyakit besar diatas saat inipun kita sering mendengar keracunan makanan yang terjadi ditengah masyarakat. Pemakaian bahan dan zat beracun yang digunakan didalam makanan dan minuman kita serta beredarnya obat palsu yang menambah buruk kondisi kesehatan masyarakat kita.

Melihat kondisi kesehatan masyarakat kita saat ini memang komitmen pemerintah harus tinggi. Selayaknya masalah kesehatan juga turut menjadi perhatian. Untuk mengatasi kesehatan ini komitmen pemerintah juga harus tinggi dan harus menjadikan masalah kesehatan sejajar dengan masalah lain seperti masalah politik, ekonomi dan keamanan. Pertumbuhan ekonomi yang baik tentu juga harus diikuti dengan kesejahteran rakyat khususnya dibidang kesehatan.

Upaya-upaya yang telah dilakukan saat ini hanya reaktif saja nampaknya. Disisi lain masalah desentralisasi juga merupakan salah satu factor yang menjadi alasan kenapa masalah penanganan kesehatan tidak optimal. Pusat merasa bahwa masalah Puskesmas sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan rakyat adalah masalah daerah disisi lain masyarakat juga berharap pusat dapat melaksanakan programnya langsung kedaerah.

Kondisi yang terjadi saat ini terutama di kota-kota besar oleh sebagaian Pemmerintah Daerah (PEMDA) telah menjadikan Puskesmas sebagai Badan Layanan Umum (BLU) sebagai salah satu pusat pelayanan yang seharusnya bisa menghasilkan uang dan bisa berdiri sendiri dengan penghasilan yang didapat saat memberikan pelayanan kepada masyarakat.Oleh karena itu sebagian besar Puskesmas terutama yang di kota-kota besar lebih berperan sebagai rumah sakit kecil ketimbang sebagai ujung tombak pembangunan. Pemerintah daerah termasuk jajaran kesehatan sepertinya lupa bahwa diadakannya Puskesmas baik ditingkat kelurahan maupun kecamatan bukan saja sebagai pusat pelayanan kesehatan pertama kepada masyarakat tetapi Puskesmas juga bisa berperan sebagai ujung tombak pembangunan dan pusat pemberdayaan masyarakat untuk dapat hidup mandiri khususnya dibidang kesehatan.

Keadaan inilah yang kadang kala kurang menjadi perhatian para penyelenggara pemerintahan baik pusat maupun daerah sehingga anggaran kesehatan sangat terbatas sehingga pada akhirnya memperburuk kondisi kesehatan secara umum. Disisi lain perekonomian rakyat juga sangat parah dimana keadaaan ini juga diperburuk oleh harga bahan bakar dan bahan makanan pokok yang melambung tinggi. Jumlah masyarakat miskin masih cukup tinggi. Rakyat pada akhirnya menjadi korban pembangunan kesehatan yang tidak terarah ini.

Apakah keadaan ini bisa berubah? Tentu saja keadaan ini bisa berubah target-target pembangunan kesehatan harus jelas untuk memperlambat pertambahan penyakit baik penyakit infeksi maupun penyakit degeneratif. Apalagi saat ini dunia sedang menghadapi Global Warming yang juga menjadikan bumi saat ini menjadi lebih tidak sehat. Oleh karena itu terkenalnya bangsa ini akibat terjadinya peningkatan kasus HIV/AIDS tercepat dan banyaknya kasus flu burung yang meninggal serta insidient TBC paru terbesar harus dirubah.

Program pembangunan kesehatan seharusnya tidak saja indah diatas kertas tapi juga harus dilaksanakan. Puskesmas harus lebih diberdayakan untuk melaksanakan peran sebagai ujung tombak pembangunan dan pusat pemberdayaan masyarakat. Jika komitmen untuk memfungsikan Puskesmas sudah ada pasti akan terus diupayakan untuk selalu mencukupi tenaga-tenaga kesehatan bekerja di Puskesmas termasuk didaerah-daerah terpencil.

Pengadaan tenaga kesehatan ini dapat dilakukan dengan sistim pegawai tidak tetap atau pegawai tetap. Komitmen pusat dan daerah juga harusnya kuat untuk mengurusi masalah ketenagaan di Puskesmas-puskesmas.

Anggaran yang diberikan untuk masalah kesehatan harus memadai bukan saja untuk mengadaan tenaga kesehatan di Puskesmas tetapi juga untuk program-program kesehatan.. Pejabat-pejabat yang ditunjuk untuk menangani masalah kesehatan juga sebaiknya seorang pejabat yang cakap dan memang mengetahui akar masalah kesehatan yang sedang terjadi pada bangsa ini.

Bagaimana dengan masyarakat? Pada kondisi yang serba terbatas dan dukungan pemerintah yang kurang optimal akhirnya masyarakat harus mampu untuk mempersiapkan dirinya sendiri. Budaya gotong royong harus dihidupkan kembali. Kegiatan-kegiatan kerja bakti baik di masyarakat dan disekolah harus dihidupkan kembali. Masyarakat harus mampu bergerak sendiri. Masyarakat sebaiknya berkemampuan mengidentifikasi masalah kesehatan seputar mereka dan mampu mengkomunikasikannya dengan petugas kesehatan terutama yang berada di Puskesmas.
Saat ini dimana lapangan pekerjaan yang terbatas banyak ibu-ibu yang tidak bekerja dan hanya berada dirumah mengurus rumah tangga dan dan rasanya mereka tersebut masih bisa berbagi waktu untuk sesama.

Harus diciptakan para kader-kader kesehatan yang bisa menjadi motivator untuk selalu berbudaya hidup sehat. Upaya-upaya hidup sehat dan bersih harus selalu tertanam didalam masyarakat dalam rangka mewujudkan konsep pencegahan penyakit lebih baik daripada mengobati. Masyarakat harus dimotivasi untuk bisa berdiri sendiri tanpa menunggu bantuan dari luar untuk melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit tersebut. Pada akhirnya komitmen kita semua harus tinggi untuk memperbaiki wajah buram kesehatan kita tahun depan dimasa global warming dan arus globalisasi.

Sumber :milis mediacare : Dr.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB
PB-PAPDI-Staf Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: