RSS

SANITASI

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 LATAR BELAKANG
Jamban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat lingkungan tempat hidup yang sehat. Dalam pembuatan jamban sedapat mungkin harus diusahakan agar jemban tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, kontruksi yang kokoh dan biaya yang terjangkau perlu dipikirkan dalam membuat jamban.
Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jamban adalah sebagai berikut

  1. Tidak mengakibatkan pencemaran pada sumber-sumber air minum, dan permukaan tanah yang ada disekitar jamban.
  2. Menghindarkan berkembangbiaknya/tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah.
  3. Tidak memungkinkan berkembang biaknya lalat dan serangga lain;
  4. Menghindarkan atau mencegah timbulnya bau dan pemandangan yang tidak menyedapkan;
  5. Mengusahakan kontruksi yang sederhana, kuat dan murah;
  6. Mengusahakan sistem yang dapat digunakan dan diterima masyarakat setempat.

Dalam penetuan letak kakus ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu jarak terhadap sumber air dan kakus. Penentuan jarak tergantung pada :

  1. Keadaan daerah datar atau lereng.
  2. Keadaan permukaan air tanah dangkal atau dalam
  3. Sifat, macam dan susunan tanah berpori atau padat, pasir, tanah liat atau kapur

Faktor tersebut di atas merupakan faktor yang mempengaruhi daya peresapan tanah. Di Indonesia pada umumnya jarak yang berlaku antara sumber air dan lokasi jamban berkisar antara 8 s/d 15 meter atau rata-rata 10 meter.

Dalam penentuan letak jamban ada tiga hal yang perlu diperhatikan :

  1. Bila daerahnya berlereng, kakus atau jamban harus dibuat di sebelah bawah dari letak sumber air. Andaikata tidak mungkin dan terpaksa di atasnya, maka jarak tidak boleh kurang dari 15 meter dan letak harus agak ke kanan atau kekiri dari letak sumur.
  2. Bila daerahnya datar, kakus sedapat mungkin harus di luar lokasi yang sering digenangi banjir. Andaikata tidak mungkin, maka hendaknya lantai jamban (diatas lobang) dibuat lebih tinggidari permukaan air yang tertinggi pada waktu banjir.
  3. Mudah dan tidaknya memperoleh air.

Dalam bab ini ada 5 cara pembuatan jamban/kakus yang memenuhi persyaratan tersebut di atas, yaitu :

  1. kakus/jamban sistem cemplung atau galian
  2. Jamban sistem leher angsa
  3. Jamban septik tank ganda
  4. Kakus Vietnam
  5. Kakus sopa sandas

I.2 ISU AKTUAL

Rumah tangga miskin desa Klepu kebanyakan belum memiliki WC yang memenuhi standart kesehatan . Dalam pengamatan Kami mendapati Rumah Tangga Miskin Desa Klepu kebanyakan  masih memakai  WC Cemplung dengan cara menggali tanah di pekarangan rumah dan lubang WC tidak tertutup. Model WC seperti itu beresiko terjadi pencemaran terhadap lingkungan dan sumber air. Selain itu lubang yang tidak tertutup beresiko menyebarkan penyakit melalui perantara lalat.

Pembuangan kotoran manusia  apabila tidak dikelola dengan baik seringkali mencemari air bersih sehinga air tersebut dapat menjadi media penyebaran penyakit. Hubungan kepemilikan jamban dan penggunaan air bersih merupakan salah satu upaya menurunkan jumlah kasus diare, karena air yang terkontaminasi tinja menjadi salah satu media bakteri  dalam penyebaran penyakit diare.

I.3 LINGKUP BAHASAN

Dalam Kertas Kerja Perorangan  ini Kami membatasi pembahasan pada isu aktual yang dipilih yaitu rendahnya kualitas pembungan kotoran manusia pada Rumah Tangga Miskin Desa Klepu berhubungan dengan resiko penyakit diare sehingga mempengaruhi kualitas kesehatan mereka.

Dengan menggunakan metode analisis pohon masalah Kami berusaha menentukan masalah pokok dan masalah spesifik, selanjutnya dilakukan analisis tapisan untuk menemukan program terpilih guna meningkatkan taraf kesehatan RTM dengan menurunkan utamanya resiko penyakit diare dan tyfus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

DESKRIPSI KONDISI DAN POTENSI DESA KLEPU

 

 

II.1 KONDISI GEOGRAFIS, EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA

II.1.1 KONDISI GEOGRAFIS

Desa Klepu terletak di ujung Timut Laut wilayah kecamatan Sudimoro dengan jarak sekitar 17 kilometer dari ibu kota kecamatan dan sekitar 72 kilometer dari ibukota kabupaten Pacitan. 6

Luas                                  : 510,1 hektar (5,1 km2)

Curah hujan                      : rata-rata 1.800 mm/th.

Jumlah penduduk            :3.043 orang  pada tahun 2008

Secara geografi Desa Klepu terletak di ujung timur Kabupaten Pacitan, letak koordinat :8o10’37”S 111o24’47”E, wilayahnya berbatasan dengan   Desa Sembowo di sebelah utara, Desa Depok dan Desa Karang Tengah di Timur. Desa Terbis di selatan, serta Desa Ketanggung di sebelah Barat.

Sebagaian besar wilayahnya  merupakan pegunungan karena berada pada rangkaian pegunungan Kidul dengan ketinggian sekitar 850 (mdpl) dari permukaan laut, luas wilayahnya sekitar 510,1hektar yang terdiri dari 51,25 hektar lahan sawah dan 375,25 hektar berupa lahan pertanian bukan sawah utamanya perkebunan dan hutan rakyat. Sisanya seluas 83,6 hektar adalah lahan non pertanian yang umumnya digunakan untuk perumahan. (BPS Kab. Pacitan, 2009)

 

II.1.2 KONDISI EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA

Hasil Pertanian Desa Klepu

1.Cengkeh

2. Kelapa

3. Ketela pohon

Indusri  Rumah tangga

  1. Tempe
  2. Penyulingan daun cengkeh

Transportasi

  1. Travel Sarana Mulya Jurusan Ponorogo-Madiun-Ngawi-Nganjuk-Jombang_Mojokerto-Surabaya
  2. Travel Jurusan Surabaya-Mojokerto-Jombang-Kediri-Tulungagung-Trenggalek-Pacitan

Komunikasi

Saat ini komunikasi sudah terjangkau flexyhome, Telkomsel, XL, dan Ceria.

 

Seni Budaya

Di desa Klepu masih terpelihara baik:

  1. Reog Tulungagung
  2. Kuda lumping
  3. Slawatan
  4. Tayub
  5. Wayang kulit

Tradisi

  1. Ariayan
  2. mitung mbengi
  3. Neloni
  4. rasuran
  5. ngarotengahi
  6. nyetahuni
  7. galungan

(id.wikipwdia.org/wiki/Klepu_Sudimoro)

 

II.2 PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN

Menurut kualitasnya bangunan rumah dikategorikan menjadi bangunan permanen, semi permanen dan bangunan tidak permanen. Kualits ekonomi suatu keluarga salah satunya ditunjukkan oleh kualitas bangunan rumah keluarga tersebut. Brsebut angunan rumah di Desa Klepu sebanyak 705 bangunan, yang terdiri dari 504 bangunan rumah permanen, 171 unit rumah semi permanen dan 29 bangunan rumah tidak permanen.

Meskipun jaringan listrik sudah masuk ke wilayah desa ini. Namun belum semua keluarga menggunakan listrik PLN sebagai sumber penerangan. Dari 926 keluarga yang tinggal di desa ini, tercata sebanyak 901 keluarga yang telah menggunakan  listrik PLN sebagai sumber penerangan. Selebihnya menggunakan sumber penerangan dari bukan lisrik, karena sumber listrik non PLN tidak ada di desa ini. Di jalan utama yang melintasi desa ini baru sebagian terpasang penererangan yang disediakan oleh warga secara swadaya.

Sebagian bear keluarga di desa ini masih memanfaatkankayu bakar untuk memassak sehari-hari.Kayu bakar dinilai lebih ekonomis dibandingkan bahan bakar yang lain seperti gas LPG dan minyak tanah karena sebagian besar keluargaa di desa ini tidak perlu mengeluarkan biaya ubtuk mendapatkannya.

Fasilitas perumahan dan pemukiman yang memenuhi syarat kesehatan tentunya menjadi idaman bagi setiap keluarga. Fasilitas tersebut antara lain tempat buang sampah dan tempat buang air besar. Sebagian besar keluarga di desa Klepu ini telah cukup baik dalam mengelola sampah, yaitu dengan cara menampung dalam lubang dan dibakar yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk komposs. Sebagian besar kleuarga juga sudah  mempunyai jamban sendiri sebagi tempat buang air besar keluarga. Akan tetapi Kami dapatkan temuan bahwa dari 285 RTS di Desa Klepu hampir semunya masih menggunakan WC cemplung bukan WC leher angsa sebagaimana standart kesehatan.

Dalam penataan perumahan masih bisa didapatkan kandang-kandang ternak baik kambing maupun sapi ditempatkan di depan rumah, akan tetapi sudah terpisah dari rumah tinggal penduduk.

Kondisi geografis desa yang sebagian merupakan lereng pegunungan menyebabkan masih adanya bencana yang melanda desa ini. Bahkan penulis sempat menyaksikan sendiri tanah longsor di Dusun Mulyosari pada bulan September 2010 yang mengakibatkan tumpukan lorokan tanah di ruas jalan dan beberapa pohon tumbang sehingga merusak jaringan kabel PLN. Selama kurun waktu tiga tahun terakhir terjadi bencana tanah longsor sebanyak 8 kali. Meskipun tidak ada korban jiwa, namun kerugian materi diperkirakan 25 juta rupiah. Namun demikian upaya antisipasi penanggulangan benacana alam tetap dilakukan. Warga secara gotong royong melakukan berbagai kegiatan guna menanggulangi bencana didukung bantuan yang diterima dari Pemkab Pacitan.

II.4.PENDIDIKAN

Fasilitas Pendidikan di Desa Klepu cukup memadai. Di desa ini tersedia telah tersedia sarana pendidikan para sekolah yaitu Taman Kanak-kanak dan Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sebanyak 4 PAUD kunjungan dengan pendidikan berpusat di Sunduk. Sarana Pendidkan Dasar tersedia Sekolah Dasar sebanyak 3 unit. Juga terdapat sarana pendidikan informal TPQ (Taman Pendidikan Qur’an/ di masjid desa sebagai media pendidikan agama bagi anak-anak di Desa Klepu.Untuk jenjang lanjutan mulai dibangun SMP Negeri 5 Sudimoro (Satu Atap) yang masih dalam tahap penyelesaian bangunan, terletak di sebelah SD Negeri 01 Klepu.Dengan demikiaan anak-anak yang akan melajutakan pendidikan menengah pertama tidak usah menempuh jarak jauh ke desa sebelah baik di Desa Karang Tengah maupun ke Desa Ketanggung yang berjarak 5 km dari desa Klepu.Sedangkan untuk sekolah SMA dan SMK anak-anak Desa Klepu belum tersedia, mereka harus menggunakan fasilitas yang berada di desa lain dengan jarak sekitar 14 km.

Dari penuturan Bapak Mujiono, S.Pd salah satu tokoh pendidikan Desa Klepu. Beliau telah berkecimpung dalam dunia pendidikan di Desa Klepu sejak tahun 1982. Kami dapatkan informasi bahwa Status pendidikan penduduk rata-rata desa Klepu masih belum bagus, yang lulusan SMA dan sederajat masih sangat sedikit. Hal ini disebabkan oleh faktor orang tua dan anakanak didik belum memiliki motivasi yang kuat untuk meraih jenjang pendidikan yang tinggi disamping tuntutan ekonomi keluarga yang memaksa anak-anak harus bekerja membantu orang tuanya mencari nafkah keluarga.

Masih menurut Bapak Mujiono, S.Pd, kondisi pendidikan desa Klebu dibandingkan 25 tahun yang lalu jauh lebih baik Dulu pada tahun 80-an rata-rata yang bisa menyelesaikan pendidikan SD hanya 50% dari siswa yang masuk pada awal ajaran dari kelas satu, misalnya saat masuk kelas satu didapatkan 40 siswa, maka yang mampu menyelsaikan sampai lulus SD hanya 20 orang, sisanya biasanya putus sekolah.

II.5 KESEHATAN

Sarana kesehatan di Desa Klepu sudah cukup memadai untuk melayani kesehatan tingkat dasar bagi warga. Di desa ini telah tersedia sebuah Puskesmas Pembantu (Pustu), sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), sebuah Pos Bersalin Desa (Polindes) dan dua Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dari praktek dokter, mereka bisa mengakses fasilitas di desa lain dengan menempuh jarak sejauh 12 kilometer. Demikian juga untuk mendapatkan pelayanan dari Puskesmas warga desa ini harus mengakses fasilitas di luar desa dengan jarak sejauh 12 kilometer.

Kecendrungan lain warga desa Klepu untuk mendapatkan rawat inap dasar ke kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek atau ke Puskesmas di Lorok.

Apabila masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan, lebih lanjut  mereka , warga klepu masih harus pergi ke ibukota Kabupaten Pacitan dengan menempuh jarak 72 km, tau ke ibukota Kab. Trenggalek dengan jarak tempuh tidak jauh beda. Demikian juga apabila warga membutuhkan pelayanan kesehatan dari Poliklinik dan rumah bersalin mereka biasanya memanfaatkan fasilitas kesehatan yang berada di ibukota Kabupaten Pacitan.

Selam kurun satu tahun terakhir terjadi wabah Chikungunya yang melanda masyarakat Klepu. Beberapa keluhan akibat penyakit ini masih dirasakan warga, rasa nyeri di sendi-sendi tangan dan kaki yang berkepanjangan. Tidak ditemukan penduduk yang menderita gizi buruk dalam tiga tahun terakhir. Sejumlah kasus Morbus Hansen juga ditemukan di Desa Klepu, dan sudah mendapatkan penanganan dari Puskesmas Sudimoro.

Sebagai upaya pelayanan sosial, pemerintah telah memberikan fasilitas asuransi kesehatan bagi warga miskin dengan membagikan kartu Jamkesmas kepada 268 warga miskin di desa Klepu.Namun demikian , dalam setahun terakhir pemerintah Desa Klepu masih mengeluarkan 54 surat keterangan tidak mampu untuk memberikan fasilitas bagi waarga dalam memperoleh pelayanan kesehatan dan pendidikan secara murah, bahkan gratis sama sekali.

 

 

 

 

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

I. URAIAN SINGKAT KAKUS CEMPLUNG

Kakus atau jamban jemplung sesuai untuk daerah yang tanahnya mudah menyerap air serta sulit dalam pengadaan air bersih. Kontruksinya cukup sederhana. Kakus dibuat dengan cara menggali tanah sebagai lubang penampungan. Lalu diperkuat dengan bahan penguat, biasanya bronjong atau anyaman bambu, serta diatasnya dibuat bangunan penutup yang dapat dipindahkan bila lubang telah penuh. Untuk menghindari bau yang timbul, lubang pembuangan ditutup serta dilengkapi pipa pembuangan gas.

  1. II.      BAHAN
  2. Bambu
  3. Kayu
  4. Bahan atap atau genteng
  5. Bahan dinding/penutup
  6. Paku
    1. III.    PERALATAN
  7. Cangkul/alat penggali tanah
  8. Gergaji
  9. Golok
  10. Palu
  11. Alat pertukangan lain

V.  PEMBUATAN

Gali tanah selebar 1-1,5 m, dalam 3 m atau lebih, tergantung kebutuhan.
Paku bronjong (anyaman bambu) atau bahan penguat lainnya pada dinding lobang untuk menahan longsor.

  1. Tutup lubang dengan lantai yang berlubang dan bangunan penutup
  2. Lubang khusus pembuangan kotoran perlu ditutup dengan penutup yang dapat diangkat.
  3. Untuk menghindari bau yang tidak sedap, lubang septik tank perlu dilengkapi dengan saluran pembuangan gas.
  4. Bangunan jambang perlu diusahakan agar cukup ventilasi udara dan sinar masuk.
  5. Bangunan diusahakan dari bahan yang ringan agar mudah dipindahkan.
  6. Lokasi dianjurkan agak jauh dari tempat kediaman atau perumahan.
  1. VI.   PENGGUNAAN

Pemakai langsung membuang kotorannya dari atas lubang yang telah disediakan pada banguan penutup dengan tata cara :

  1. Tutup lubang dibuka
  2. Jongkok tepat diatas lubang
  3. Diusahakan kotoran tidak menyentuh dinding lubang Setelah selesai lubang ditutup kembali

VII.  PEMELIHARAAN

Untuk mencegah penyebaran penyakit atau bau, lantai perlu dibersihkan secara teratur.

Untuk menjaga agar bangunan tahan lama, bahan-bahan harus diresidu atau dikapur lebih dahulu sebelum dipasang.

  1. VII.       KEUNTUNGAN

Kontruksi bangunan cukup sederhana dan mudah dilaksanakan sendiri tanpa memerlukan persyaratan khusus.

  1. Biaya yang diperlukan tidak terlalu tinggi atau cukup terjangkau oleh masyarakat.
  2. Daerah bekas lokasi jamban menjadi subur
  3. Bangunan bisa dipindahkan
  4. VIII.     KERUGIAN

Lubang tinja bila penuh tidak bisa dimanfaatkan kembali karena kontruksinya tidak tetap.

  1. Sulit untuk memperhitungkan ketahanan kekuatan kontruksi penguat lubang dan bangunan jamban.
  2. Kurang nyaman
  3. Dari segi kesehatan, jamban sistem ini dianggap kurang higinis karena berbau serta memungkinkan timbulnya lalat dan serangga lain.
  4. Kurang aman untuk anak-anak.

 

BAB IV

PERMASALAHAN DAN PEMECAHANNYA

 

IV.1 IDENTIFIKASI DAN ANALISIS MASALAH

IV.1.1 Identifikasi Masalah

Berdasarkan pengamatan Kami terhadap 295 RTS Desa Klepu maka didapatkan bahwa hampir semua RTS masih menggunakan Kakus cemplung yang belum memenuhi standart. Rinciannya sebagai berikut:

Tabel 2

Kepemilikan Kakus/Jamban RTM Desa Klepu 2010

NO JENIS KAKUS/JAMBAN JUMLAH
1. Jamban Cemplung 257
2. WC Septic Tank 14
3. Tidk memiliki Jamban 15
TOTAL 295

Jadi kepemilikan Jamban RTM adalah 257 KK, sedangkan kualitas jamban cemplung tersebut belum memenuhi syarat sanitasi lingkungan, antara lain:

  1. Jamban cemplung tidak tertutup, sehingga memungkinkan muncul bau tak sedap dan masuknya serangga yang menyebarkan penyakit
  2. Bangunan penutup jamban tidak ada, sebagian besar hanya ditutup terpal atau anyaman bambu serta tidak beratap
  3. Lubang penampungan kotoran tidak dilapisi bronjong atau anyaman bambu, sehingga memungkinkan resapan ke air tanah.

IV.1.2 Analisis Masalah

Dari identifikasi masalah di atas, selanjutnya dilakukan analisis masalah menggunakan pohon masalah untuk menentukan Masalah Pokok dan Masalah Spesifik.

Gambar 3

POHON MASALAH

                                               

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan

  • Masalah yang dihadapi ialah nomor 1
  • Penyebab utama masalah nomor 1 ialah 2b
  • Penyebab utama masalah nomor 2b ialah masalah nomor 3b
  • Akibat masalah nomor 1 ialah masalah nomor 4

IV.1.3 Prioritas Masalah

Setelah diketahui penyebab masalah yang dihadapi, maka perlu untuk memilih dan menetapkan prioritas masalah penyebab utama dengan menggunakan USG (Urgency Serioussness and Growth). Analisis USG yang dilakukan dengan memberikan skor untuk masing-masing pembobotanyang dilihat dari aspek Urgency (U), Serioussness (S) dan Growth(G) dengan menggunakan skor 1-5 yang mempunyai makna sebagai berikut:

  • Angka 5 berarti sangat tinggi
  • Angka 4 berarti tinggi
  • Angka 3 berarti cukup tinggi
  • Angka 2 berarti rendah
  • Angka 1 berarti sangat rendah

Analisis USG merupakan metode untuk memilah Masalah Pokok Terpilih (MPT)  dan Masalah Spesifik Terpilih (MST). Hal ini sangat penting untuk  menentukan strategi pemecahan masalah yang akan dipilih.

Selanjutnya analisa USG dalam Kertas Kerja Perorangan ini sebagai berikut

Tabel 2

ANALISA USG MASALAH POKOK

NO MASALAH U S G TOTAL
1 Rendahnya status ekonomi rtm desa klepu 4 5 4 13
2 Minimnya pembinaan mengenai pembuatan jamban ceplung yang baik 5 5 4 14
3 Rendahnya status pendidikan rtm desa klepu 4 4 3 11

Dari tabel  USG di atas didapatkan skor 14 sebagai skor tertinggi pada masalah minimnya pembinaan mengenai pembuatan jamban ceplung yang baik. Maka masalah ini ditetapkan sebagai Masalah Pokok Terpilih (MPT).

Langkah selanjutnya ialah menentukan Masalah Spesifik dari Masalah Pokok Terpilih tersebut dengan menggunakan metode USG juga seperti tersaji berikut

Tabel 3

ANALISA USG MASALAH SPESIFIK

NO MASALAH U S G TOTAL
1

Tidak adanya kelompok motivator pemilikan jamban sehat

4 4 4 12
2 Kurangnya penyuluhan

Mengenai kepemilikan jamban cemplung yang sehat

5 5 4 14

Dari tabel di atas didapatkan skor tertinggi pada masalah nomor 2 Kurangnya penyuluhan Mengenai kepemilikan jamban cemplung yang sehat. Sehingga ditetapkan sebagai Masalah Spesifik Terpilih (MST) untuk ditangani lebih lanjut.

IV.2 PENETAPAN PROGRAM

Dalam Kertas Kerja ini digunakan pohon sasaran dan pohon alternatif untuk memilih dan menetapkan alternatif program.

Dengan menyusun pohon sasaran sangat penting untuk mengidentifikasi dan memilih cabang mana yang memiliki pengaruh terbesar terhadap sasaran utama. Adapun pohon sasaran dalam KKP ini disusun sebagai berik

Gambar 4

POHON SASARAN

 

AKIBAT

 

 

c

2

SEBAB

a

b

 

 

b

a

3

 

 

Selanjutnya untuk menentukan alternatif pemecahan atau tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai sasaran dibuatkan pohon alternatif berikut

Gambar 5

POHON ALTERNATIF

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah diketahui alternatif yang bisa digunakan untuk mencapai sasaran, mka ditetapkan prioritas program sebagai kegiatan terpilih. Hal ini perlu dilakukan mengingat keterbatasaan sumber daya maupun daya efektifitas-efisiensinya. Maka digunakan analisa tapisan berikut

Tabel 4

ANALISA TAPISAN

NO ALTERNATIF TAPISAN
KONTRIBUSI BIAYA KELAYAKAN TOTAL
1 Pembentukan arisan jamban sehat rtm desa klepu 4 3 4 11
2 Penyuluhan

Mengenai kepemilikan jamban cemplung

5 5 4 14
3 Pembentukan adanya kelompok motivator pemilikan jamban sehat 4 4 4 12

Keterangan

Skor 5 : Sangat berpengaruh

Skor 4 : Berpengaruh

Skor 3 : Cukup berpengaruh

Skor 2 : Kurang berpengaruh

Skor 1 : Tidak Berpengaruh

Dari analisa tapisan tersebut diketahui bahwa program Penyuluhan Mengenai kepemilikan jamban cemplung mendapatkan skor tertinggi. Sehingga ditetapkan sebagai kegitan prioritas untuk mencapai sasaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

V.1 KESIMPULAN

  1. Sebagian besar rumah tangga miskin desa klepu masih menggunakan jamban pengeluaran kotoran manusia yang tidak memenuhi syarat sanitasi lingkungan yang baik.
  2. Jamban yang dimiliki RTM desa klepu berisiko mencemari sumber air dan memudahkan penyebaran penyakit diare dan tipes.
  3. Kurangnya masalah pembinaan mengenai tata cara pembuatan jamban cemplung kepada RTM desa klepu menyebabkan mereka tidak mengetahui tatacara pembuatan jamban sehat..
  4. Upaya meningkatkan pengetahuan RTM desa Klepu mengenai tatacara pembuatan jamban yang memenuhi persyaratan sanitasi yang baik, dipilih sebagai program utama.

V.2 REKOMENDASI

  1. Perlu dilakukan penyuluhan mengenai jamban sehat bersama pihak terkait secara periodik.
  2. Perlu peranserta tokoh masyarakat dan aparat desa sebagai motivator penggerak terwujudnya jamban sehat bagi RTM
  3. Untuk meringankan pembiayaan pembuatan jamban sehat bagi RTM perlu dibentuk arisan jamban sehat RTM.

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonimus.2009.Pengelolaan Air Dan Sanitasi Kakus_Jamban Sistem Cemplung Atau Galian. Ngori News Online.Htm

Badan Pusat Statistik Kab. Pacitan. 2009. Profil Desa Klepu Kecamatan Sudimoro.Pacitan

USAID Indonesia. March 2006.Kajian Teknis Cepat Dusun BlangLambaro, Desa Saree Aceh

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: